Selamat Menapaki Daerah Kekuasaan Emosi saya..!!!

Oktober 14, 2010

Kapan ? Lepas ?

Wataw ! ! ! !


Setelah sejauh cahaya telah berkelana sepanjang penjuru galaksi - setelah foton-foton bermain-main dengan riuh di ruang hampa - melambai-lambai dalam irama gelombang tranversal fungsi sinus - aku masih disini mencari bulir-bulir ilham (?)

Oke...!

Sekarang saatnya saya harus kembali kedunia saya yang sempat saya lupakan. Kembali berkelut dan berkutat serta berkecimpung di dunia per-blog-an(?)

"Kapankah?"


Mmhhh?


Kali ini saya akan banyak bercicit - mendesis - mengembik - terhadap kalimat tanya yang satu ini:

Kapankah ?

Ya!

" Kapan ya gue bisa kayak Justin Bieber ? " ujar seorang remaja yang terjangkit Bieber Fever.

" Kapan aja boolee. . . . " jawab temannya meniru ucapan alay yang sedang trend waktu ini.

Huh, dari pertanyaan sang pasien Bieber Fever diatas, saya menarik sebuah analogi - hipotesis - teorema :

Kapan adalah sebuah manuskrip (?) yang telah banyak digandrungi seluruh manusia untuk menanyakan waktu kedepan terkait sebuah ketidak pastian bak anai-anai yang masih dicinta kuncup mengharapkan angin me-madu-nya terbang melintasi angkasa ketika tandus masih menyelimuti suasana (?)

Namun juga bisa berbalik arah menjadi sebuah kepastian yang belum diketahui - terjamah di otak seseorang - akan kronologi masa lalu yang telah terjadi.

hah!


kok gue jadi kayak filsuf gini seeh?!!!!


Ok!


Maksudnya apa?

Saya sering menggunakan kata ' kapan ' untuk setidaknya meraba masa depan saya terkait impian-impian saya. Ketika merenung dalam gulitanya hati (?) kata ' kapan ' berlalu lalang di benak saya bak kunang-kunang. ' Kapan ' menikahi banyak kata lainnya membentuk kalimat tanya yang mencolok-colok gerbang masa depan.

Saya akui, saya memang pengecut. Saya lebih berani mengatakan ' kapan ' ketimbang ' bagaimana '. ' Bagaimana ' rasanya lebih berat karena menuntut suatu teknis menuju realita yang tak ubahnya mejejaki batas universe yang tak berbatas nan bertepi. Ada suatu anak tangga demi mencapai suatu impian yang gemerlang yang di sepanjang perjalan duri bertaburan siap menusuk dengan mata tertajamnya.

Dan ada lagi yang lebih berani dari orang pemberani yang bisa mengatakan ' bagaimana ' demi impiannya, yaitu seseorang yang bisa mengatakan ' mengapa '. ' Mengapa ' menuntut sebuah alasan logis dari sebuah cita-cita. Jawaban dari ' mengapa ' pun tak ubahnya membuat kalimat terbijak dari seluruh kalimat yang pernah Eyang-eyang terdahulu ucapkan.

Alasan sepele yang intinya demi kepuasan diri sendiri adalah justru orang berikutnya yang masuk jajaran orang terpengecut. Namun, yang dapat memberikan jawaban terbijak atas pertanyaan ' mengapa ' yang ia katakan adalah sebijak-bijaknya makhluk karena alasan yang dia buat adalah demi suatu kemaslahatan yang mulia.

Kembali ke diri saya yang maniak mengucapkan ' kapan '. Saya masih takut untuk melangkah ketapak awan berikutnya menuju kebahagiaan sejati di ujung langit falhara(?). Saya masih berkutat akan kesenangan yang saya dapatkan untuk diri saya sendiri ketika waktu tibanya jawaban ' kapan ' itu saya raba.

**eh, ngomomg-ngomong, kok bahasa gue jadi parah gini ya?
sejauh ini, yang ngerti tulisan gue, gue kasih :
ten thumbs up dah ! ! !


Eya !

Sebuah hal kecil tentang ' kapan ' memeberikan secercah anak tangga lebih tinggi dari ikatan basa nitrogen dalam rangkap helix DNA yang menjadikannya suatu mutasi gen. Saya kalo begitu adalah sosok yang telah mengalami suatu mutasi.

Ketika kita sadar kalau kita adalah sosok pengecut maka kita tidak lagi seorang pengecut. Melainkan sosok pemimpi yang melahirkan sebuah mimpi baru untuk ***lepas**** dari belenggu kepengecutan. Lari dan lepas. Dan kembali lagi. Itulah saya yang hanya punya tekad angin!

" Kapan ya gue berhenti ngebayangin gue bisa kaya Justin Bieber ?" tanya sang remaja lagi.

" Sekarang juga boolleeeee. . . . . . . . ." jawab temannya dengan meniru ucapan alay sebelumnya.