Selamat Menapaki Daerah Kekuasaan Emosi saya..!!!

Oktober 19, 2010

mempermalukan malumu (kau-dia)

Pernahkan Anda mendapat scene dalam hidup Anda menjadi sosok yang terperangkap dalam genggaman - cengkraman - kurungan - sebuah perasaan yang acap kali diperkenankan dengan kata : MALU ?


*Hualah ribet amad...!


Okelah, malu itu siapa seh?

Makhluk mengerikan yang senantiasa mengekang jati diri kita yang sebenarnya, mengurung diri kita dalam perasaan yang teramad dilema...

Seluruh orang punya yang disebut malu. Malu-malu mau. Mau tapi malu. Takut nih karena malu. Pliss jangan malu.

Hah, perlukah kita malu?


Perlu sekali buat bersikap malu sebagai tanda harga diri kita. Ketika kita melakukan perbuatan yang tidak senonoh, maka patutlah kita malu. Malu juga simbol kehormatan loohhh. Apakah para kaum bangsawan dara biru berani melakukan aksi topless sepanjang Park Avenue mereka ?

Dalam suatu scene, mari kita telisik dan endus siapakah sosok yang malu di dalamnya :

(Saya tidak pernah mengatakan ini adalah scene asli dari kehidupan nyata. Bila ada kesamaan tokoh hanya kebetulan belaka. Ataupun pihak-pihak yang mungkin merasa dilecehkan saya tidak bertanggung jawab karena ditambah ini adalah media dimana sang Empu bebas meluapkan emosinya tanpa ada sedikit pun ke-frontal-an dalam setiap bagiannya.)

A : (sosok yang mengakui dirinya sendiri sebagai ahli pembuka pikiran) "Saya akan buka pikiran Anda, karena ketika saya membuka alam bawah sadar Anda, Anda mampu berpikir sekaligus mengingat lebih baik dari sebelumnya. Anda sudi?"

B : (sosok yang merasa kemenangan akan selalu miliknya, sehingga ke-sok-an menjadi bagian dari pakaiannya (?), berharap dia akan selalu tetap cool dan tak pernah tak bisa untuk segala hal) "Oke, boleh."

A : "Tatap mata saya [ Back sound : wweeeeeeiiiiinngggg, weeeeeeiiiiiinngggggg, weeeiiiinngggggg], ketika saya menghitung dari satu sampai lima, Anda akan memejamkan mata Anda dan masuki pikiran bawah sadar Anda lebih dalam lagi.

Satu...

Dua...

(si B udah merem nih -meremnya karena emang dia sendiri yang mejemin matanya)

Tiga...

Masuki alam pikiran Anda lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Empat...

Abaikan setiap kegaduhan yang masuk ke telinga Anda, anggap itu menjadi pemicu Anda agar lebih konsentrasi.

Lima...

Rasakan alam pikiran bawah sadar Anda yang begitu luas.

Ketika Anda mencoba membuka kelopak mata Anda, Anda merasakan kekuatan yang berat yang menahan mata Anda terbuka.

Tiap saya menghitung, Anda akan semakin masuk ke alam bawah sadar Anda yang luas.

Satu..

Dua..

Tiga..

Semakin dalam lagi...

Semakin dalam hingga Anda bisa melihat sebuah kekuatan besar yang tersimpan disana...

Empat...

(si B masih tidur nih, entah melaksanakan sugesti si A ato pura-pura biar :
 "Waaahhhhhh, kakak B kereeennnn, aku ga bisa loh kaya kak B....iihhhh, keren deehhh)

Lima..

Sekarang raih lah kekuatan besar yang tersimpan di alam bawah sadar Anda tersebut.

Ambillah...

Dan bawalah ke kehidupan Anda yang sebenarnya.

Ketika saya menghitung dari satu sampai lima, Anda ambil kekuatan tersebut.

Satu...

Dua...

Tiga...

Empat...

Lima...

Sekarang, saya akan menghitung dari satu sampai lima, ketika sampai di hitungan ke lima, Anda akan bangun dari tidur Anda dan merasakan kekuatan tersebut telah membuat pikiran Anda menjadi lebih baik berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Satu..

Dua...

(sumpah, pas bikin ni posting, gue kesel deh, ngiiiiituuuuunngggg mulu! ! ! ! ! gue copas aja dah itung-itungannya! ! !)

Tiga...

Empat...

Lima...

B : ". . . ."(udah bangun, sok pusing dan bingung makanya jadi pusing beneran ! wkwkwkwkwk)

A : "Ya saudara B, apa yang Anda rasakan sekarang?"

B : (dia bingung mau ngomong apa. Inner monolog : "Duh, gue mesti ngomong apa ia? Bingung nih...Coba aja gue ga pura-pura tadi! ! !) "Ya gitulah, enakkan aja..." (sok stay cool but hot)

A : "Sekarang untuk menguji kemampuan daya ingat Anda seperti yang telah saya janjikan, ingat sepuluh kosakata saja dari apa yang akan saya sebutkan. Mengerti?"

B : "Ya..." ( Inner monolog : "Duh, apaan lagi nih ? ! !")
A : "Oke, satu kurcaci, dua apel, tiga sepatu kaca, empat pangeran, lima (bla..bla..bla)"

B : (mengangguk-angguk tiap kali disebutkan kata-kata tersebut layaknya sosok yang mengerti dan mampu mengingat) (Inner monolog : "Eh, eh, tadi satu apaan ? Sepatu kaca apa kurcaci ya? Duh, gawat nih, gue lupa semua...!")

A : "Anda sudah ingat semua dari satu sampai sepuluh?"

B : (Inner monolog : "Kalu gue bilang lupa, gue bakal malu-maluin nih. Duh, bilang "ia" aja kali ya?") "Ia."

A : "Oke, nomor dua apa?"

B : (Inner monolog : "Mampus ! [nelen ludah] Apaan tadi nomor dua ???!!!! Alah, mau ngeles gimana nih? Yaudah asal tebak aja dah, muka gue ganteng ini, kalo pun gue salah toh ga akan ngurangin kegantengan gue") "Kurcaci."

A : "Salah ! Dua tuh Apel !"

Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

Saya lupa cerita kalau scene tersebut latarnya dikelilingi orang-orang. Muka saya mau ditaro mana kalo jadi mereka ? Aduh, saya mau ngakak tapi hanya bisa dalam hati soalnya pas posting bukan di komputer sendiri, tapi di sekolah, bisa saya yang malu-maluin nantinya.

Yaudah, nilai sajalah siapa yang malu dalam scene yang sudah saya ceritakan baru-baru ini (?) - diatas.

Semoga ada sesuatu yang bisa Anda petik dari pohon Postingues bloggerina(?) iniiiiiiiiiiii

zao an ! !

Oktober 14, 2010

Kapan ? Lepas ?

Wataw ! ! ! !


Setelah sejauh cahaya telah berkelana sepanjang penjuru galaksi - setelah foton-foton bermain-main dengan riuh di ruang hampa - melambai-lambai dalam irama gelombang tranversal fungsi sinus - aku masih disini mencari bulir-bulir ilham (?)

Oke...!

Sekarang saatnya saya harus kembali kedunia saya yang sempat saya lupakan. Kembali berkelut dan berkutat serta berkecimpung di dunia per-blog-an(?)

"Kapankah?"


Mmhhh?


Kali ini saya akan banyak bercicit - mendesis - mengembik - terhadap kalimat tanya yang satu ini:

Kapankah ?

Ya!

" Kapan ya gue bisa kayak Justin Bieber ? " ujar seorang remaja yang terjangkit Bieber Fever.

" Kapan aja boolee. . . . " jawab temannya meniru ucapan alay yang sedang trend waktu ini.

Huh, dari pertanyaan sang pasien Bieber Fever diatas, saya menarik sebuah analogi - hipotesis - teorema :

Kapan adalah sebuah manuskrip (?) yang telah banyak digandrungi seluruh manusia untuk menanyakan waktu kedepan terkait sebuah ketidak pastian bak anai-anai yang masih dicinta kuncup mengharapkan angin me-madu-nya terbang melintasi angkasa ketika tandus masih menyelimuti suasana (?)

Namun juga bisa berbalik arah menjadi sebuah kepastian yang belum diketahui - terjamah di otak seseorang - akan kronologi masa lalu yang telah terjadi.

hah!


kok gue jadi kayak filsuf gini seeh?!!!!


Ok!


Maksudnya apa?

Saya sering menggunakan kata ' kapan ' untuk setidaknya meraba masa depan saya terkait impian-impian saya. Ketika merenung dalam gulitanya hati (?) kata ' kapan ' berlalu lalang di benak saya bak kunang-kunang. ' Kapan ' menikahi banyak kata lainnya membentuk kalimat tanya yang mencolok-colok gerbang masa depan.

Saya akui, saya memang pengecut. Saya lebih berani mengatakan ' kapan ' ketimbang ' bagaimana '. ' Bagaimana ' rasanya lebih berat karena menuntut suatu teknis menuju realita yang tak ubahnya mejejaki batas universe yang tak berbatas nan bertepi. Ada suatu anak tangga demi mencapai suatu impian yang gemerlang yang di sepanjang perjalan duri bertaburan siap menusuk dengan mata tertajamnya.

Dan ada lagi yang lebih berani dari orang pemberani yang bisa mengatakan ' bagaimana ' demi impiannya, yaitu seseorang yang bisa mengatakan ' mengapa '. ' Mengapa ' menuntut sebuah alasan logis dari sebuah cita-cita. Jawaban dari ' mengapa ' pun tak ubahnya membuat kalimat terbijak dari seluruh kalimat yang pernah Eyang-eyang terdahulu ucapkan.

Alasan sepele yang intinya demi kepuasan diri sendiri adalah justru orang berikutnya yang masuk jajaran orang terpengecut. Namun, yang dapat memberikan jawaban terbijak atas pertanyaan ' mengapa ' yang ia katakan adalah sebijak-bijaknya makhluk karena alasan yang dia buat adalah demi suatu kemaslahatan yang mulia.

Kembali ke diri saya yang maniak mengucapkan ' kapan '. Saya masih takut untuk melangkah ketapak awan berikutnya menuju kebahagiaan sejati di ujung langit falhara(?). Saya masih berkutat akan kesenangan yang saya dapatkan untuk diri saya sendiri ketika waktu tibanya jawaban ' kapan ' itu saya raba.

**eh, ngomomg-ngomong, kok bahasa gue jadi parah gini ya?
sejauh ini, yang ngerti tulisan gue, gue kasih :
ten thumbs up dah ! ! !


Eya !

Sebuah hal kecil tentang ' kapan ' memeberikan secercah anak tangga lebih tinggi dari ikatan basa nitrogen dalam rangkap helix DNA yang menjadikannya suatu mutasi gen. Saya kalo begitu adalah sosok yang telah mengalami suatu mutasi.

Ketika kita sadar kalau kita adalah sosok pengecut maka kita tidak lagi seorang pengecut. Melainkan sosok pemimpi yang melahirkan sebuah mimpi baru untuk ***lepas**** dari belenggu kepengecutan. Lari dan lepas. Dan kembali lagi. Itulah saya yang hanya punya tekad angin!

" Kapan ya gue berhenti ngebayangin gue bisa kaya Justin Bieber ?" tanya sang remaja lagi.

" Sekarang juga boolleeeee. . . . . . . . ." jawab temannya dengan meniru ucapan alay sebelumnya.