Selamat Menapaki Daerah Kekuasaan Emosi saya..!!!

Juli 12, 2010

euforia kecelakaan beruntun di jalur pantura sekolahku....

Harus dari mana saya memulai?
Setelah kurang lebih 30 peradaban* sejarah manusia saya lalui...
*1 peradaban = 1 hari

Oke, pertama yang akan saya ceritakan di awal tahun ajaran baru ini adalah judul diatas.

Adakah yang tahu kecelakaan apa itu?
(pilih jawaban yang menurut Anda benar, pertanyaan ini berhadiah satu kupon gesek* gratis bagi penjawab yang benar, gosok kuponnya, dan temukan hadiahmu!!!)

a. Kecelakaan antara bis sekolah dengan mobil sedan lalu di serempet bajaj kemudian tukang ojek panik dan berteriak histeris tanpa sebab di sepanjang koridor sekolah saya;

b. Kecelakaan akibat supir truck yang lalai mengemudikan kendaraannya karena sedang asik ngupil yang kemudian menabrak seluruh teman sekelas saya hingga bapak kepala sekolah terkena serangan jantung akibat istri kesayangannya di rumah meninggal;

c. Kecelakaan akibat ledakan sebuah mobil pengangkut sampah yang meledak karena sang sopir kentut sambil menyalakan korek api( reaksi gas hidrokarbon dari kentut sang sopir yang sudah seminggu tidak buang angin dengan api dan bensin di dalam mobil yang ikut kena panas) yang menyebabkan kantin sekolah laris manis selama satu bulan tanpa ada alasan yang jelas;

 *ini adalah akal bulus perusahaan saya agar barang dagangan saya laris manis di pasaran yang padahal seluruh kupon sudah pasti bertuliskan:
" Coba lagi "


Adakah yang bisa menebak?

Langsung saja saya beritahu jawaban yang sebenarnya.

Tidak ada jawaban yang benar,
(hahahaha...)
Karena yang hendak saya ceritakan adalah pupusnya satu demi satu kelopak bunga yang selama ini berpadu padan membentuk satu kesatuan yang sangat menyentuh, mempesona, memabukan, sehingga membuat satu kekuatan keharuman yang menyerbak melebar ruah(?)

Huh...cukup...!!!

Ya, maksud dari semua ini adalah, dari awal, seorang guru fisika, keluar dari sekolah saya.

Namanya Pak Iqbal. Saya bingung harus menceritakan kebaikan yang mana dari sosoknya. Hingga hari kedua saya melanjutkan posting-an ini, saya masih tidak tahu, tapi mungkin lebih tepatnya saya lupa, terlalu lupa, amnesia.

Sosoknya rumit untuk diceritakan. Pertama kali pelajarannya dimulai, dia adalah sosok yang sok elaborate. Cermati saja ucapannya berikut ini (seingat saya):

" Setiap pelajaran bapak, kalian harus masuk tepat waktu, jika kalian telat 10 menit, maka kalian tidak usah mengikuti pelajaran bapak. Begitu pula dengan saya, jika saya telat 10 menit, saya pun tidak akan datang mengajar ke kelas."

Untuk kalimat pertama, saya masih bisa mentolerir. Namun pada kalimat kedua(cermati kalimat kedua) sejuta opini busuk saya terhadap sosoknya berkerumun, berjejal-jejal, padat merambah seisi otak saya.

"Loh, sekolah saya kan sekolah yang bayarannya mahal, meski saya anak beasiswa, saya sangat tidak setuju dengan pernyataannya, karena guru menanggung kewajiban mengajarkan muridnya, terlebih lagi dengan bayaran yang teman-teman saya bayar setiap bulannya, kewajibannnya untuk mendidik kami menjadi lebih besar.

Sama saja dong, dia adalah guru yang gemar makan gaji buta, memanfaatkan peraturan sepihaknya sehingga ia bisa jadi lebih sering tidak masuk ke kelas sementara gajinya tetap mengalir, tidak dipotong."

Dan masih banyak lagi. Sehingga semua kebencian untuk pertama kalinya saya masuk ke sekolah ini langsung terpusat pada sosoknya.

Seiring berjalannya waktu, peraturannya pun terbengkalai. Tidak lagi diindahkan oleh saya, teman-teman saya, dan sang pembuat peraturan tersebut. Buktinya:

Guru fisika saya ada 2, Guru IFP dan Pak Iqbal. Jam pelajaran mereka berdua pun beriringan, sehabis pelajaran IFP fisika, langsung fisika Pak Iqbal. Saya yakin Pak Iqbal tidak lupa kalau ia ada jam mengajar kelas saya sehabis pelajaran IFP fisika hari itu karena jadwal pelajaran sudah dibuat sejak lama(1) dan sudah diterapkan sejak jadwal pelajaran itu sendiri dibuat(2), jua Pak Iqbal selama ini mematuhi jadwal pelajaran tersebut(3), ditambah lagi Pak Iqbal sudah stand by di depan pintu ruang fisika beberapa menit sebelum pelajaran IFP fisika selesai(4)(sudah cukup kuat alibi saya?).

Namun, setelah Pak guru IFP fisika saya keluar sehabis mengajar, Pak Iqbal malah mengobrol/bercengkrama/berdiskusi/beramah-tamah/apa pun lah dengan guru IFP fisika saya di depan pintu ruang fisika. Entah apa yang mereka bicarakan. Dan waktu bergulir hingga 15 menit(seingat saya) setelah jam pelajaran Pak Iqbal seharusnya dimulai. Parahnya, Pak Iqbal tetap masuk ke kelas saya, tanpa rasa bersalah, seperti bayi yang baru lahir, seperti gadis desa yang polos, seperti sehelai kertas putih tanpa bercak noda!
Melupakan peraturannya yang telah susah pacah saya dan temen-temen saya telan bak pil pahit.

Selanjutnya, masih suasana baru saya masuk sekolah, dia memberikan PR beserta tenggat waktu yang dia tetapkan. Hari pengumpulan tugas pun tiba. Dan yang terjadi di hari itu, dia tidak datang. Pupuslah sudah semangat saya dan teman-teman saya yang selama ini bersemangat mengumpulkan tugas tersebut. Kebencian pun semakin menghujam di batin kami.

Sebagian teman-teman saya, secara diam-diam tetap mengumpulkan tugas tersebut di meja Pak Iqbal tanpa sepengetahuan saya dan sebagian besar lain dari teman-teman saya. Hingga hari selanjutnya pelajar Pak Iqbal kembali mangajar, datang. Hari itu Pak Iqbal tidak mau menilai PR kami sema sekali, sejumputpun! Yang ia mau nilai hanya yang mengumpulkan tugas tersebut diatas mejanya pada hari batas tenggat waktu pengumpulan.

Benar-benar miris...!!!

Lalu, ada satu tugas lagi yang kami harus kumpulkan beserta tenggat waktu yang kembali ia tetapkan. Kali ini, semua mengumpulkan tepat waktu. Alhamdulillah. Tetapi, masalah lain tiba. Buku tugas kami tidak dikembalikan bahkan sampai ia keluar dari sekolah saya!!!

Mungkin ini keburukan terakhir yang masih terngiang-iang di benak saya. Ya, dia sering salah memberikan rumus, memberikan rumus yang sama sekali tidak ada di buku pelajaran dan sama sekali tidak terpakai di ulangan umum, dan soal-soal aneh lainnya yang juga tidak ada di buku pelajaran dan sama sekali tidak terpakai di ulangan umum.

Saking kesalnya saya, saya sering memotong ucapannya ketika dia salah memberikan rumus atau menghitung angka.

Teman-teman saya yang lain pun sama kesalnya dengan saya terhadap dirinya. Sehingga, di belakang Pak Iqbal, kita sering mengikuti warna suaranya yang berat-berat gimana gitu(~_~).

Pendapat saya tentangnya, dia gagal (x) menjadi seorang guru. Karena, satu lagi alibi saya, dia adalah sarjana pertambangan, bukan sarjana guru fisika!!!

Perpisahannya cukup menyedihkan. Setelah lama dia tidak masuk sekolah karena sakit, dia tidak boleh masuk ke sekolah saya. Dia bilang, dia sudah di jegat dari depan pos satpam. Dan mirisnya, setelah dia berhasil masuk ke dalam sekolah, dia sudah menemukan guru baru, guru pengganti untuknya!!!

Huhhh(jujur, saya menghela nafas panjang saat kembali membaca paragraf diatas)...

Lalu, yang kedua, Pak Ono, guru biologi. Nama panjangnya Suharsono. Dia salah satu guru yang lumayan enak untuk saya. Mengapa? karena setiap kali satu hari ulangan dimulai, beliau memberikan soal-soal latihan yang entah mengapa, meski soal pada ulangan berbeda dengan soal latihan, saya terasa terbiasa untuk menjawab soal-soal ulangan tersebut.

Metode belajarnya pun diselingi dengan metode menghafal, sehingga lebih banyak pelajaran yang terserap.

Saya beserta teman-teman yang lain serasa sudah cocok dengan Pak Ono.

Dan pada hari itu, tidak ada satu pun yang mengira Pak Ono akan keluar dari sekolah saya. Suatu pagi, seperti biasa, yang baru muncul di sekolah, baru saya, Siti, Fathiyah, dan Lala, mungkin masih ada beberapa orang yang lain, tapi saya kurang memperhatikan. Dengan mimik yang tak biasa, dasi yang masih compang-camping, dia menjulurkan telapak tangan kepada saya dan orang-orang yang sebelumnya saya ucapkan. Kami pun menyaliminya dan Pak Ono seraya berkata sambil tersenyum ; "Maafin bapak ya..."

Ya...begitulah...(/_\)...(T.T)...

Yang berikutnya, Bu Mimi, guru aqidah, aqhlak, dan tariqh.

Selalu saya menari-nari diatas angin(?) saat pelajarannya, terlebih lagi saat ulangan. Salah satu hobi saya adalah menghafal, dan ulangan pelajaran Bu Mimi penuh dengan hafalan. Seru!

Perpisahan dengannya tidak terlalu mengharukan, terkesan biasa, terlalu biasa, padahal telah banyak pelajaran kehidupan yang saya ambil darinya bak buah-buah gratisan yang saya ambil dari pekarangan rumah orang.

Selanjutnya, Bu Imeh, guru komputer. Nama panjangnya Fatimah Dahlan.

Bu Imeh...hahh...dia selalu menebarkan semangat yang membius mengelora(?) Ia, Bu Imeh sangat baik, dan salah satu guru yang sangat bersahaja, dahsyat, tak terlupakan. Komposisinya adalah kebaikan, canda, dan juga banyak pelajaran kehidupan bermakna lainnya.

Meski Bu Imeh adalah guru komputer, tidak menutup kemungkinan beliau juga adalah seorang psikolog, sahabat, dan orang tua yang senantiasa sanggup mendengarkan curhatan semua ekor makhluk yang mau berbagi perasaan dengannya. Sepulang curhat dengan Bu Imeh, kita bak mengantongi satu pil obat penghilang sakit yang tidak pahit.

Pepisahan dengannya; suatu pagi di ruang komputer, saya dan beberapa ekor teman saya yang lain sedang bersemayam di depan layar monitor, menari-narikan jari dengan mouse, dan bersalsa dengan keyboard(?). Bu Imeh secara tiba-tiba datang menghampiri kami, menyodorkan telapak tangannya, tersenyum, dan berkata:
"Maafin Ibu ya, besok Jum'at Ibu udah ga disini"
Kami pun menyalimi tangannya, bertanya-tanya sedikit tentang karir Bu Imeh ke depannya.

Meski saya sudah tak lagi bertemu dengan Bu Imeh, saya masih ber-sms ria dengan Bu Imeh.

and the last but not least...(?)

Bu Wahyu, guru kimia sekaligus wali kelas saya.

Wah, pelajaran kimia sudah nyaman dengan Bu wahyu. Bu Wahyu tidak pernah marah mengajari kami, selalu sabar menghadapi semua ke tololan saya dalam menyerap pelajaran kimia yang menguras tenaga. Wali kelas yang senantiasa memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat untuk saya. ***Sungguh tak terlupakan...****

Dan...perpisahan pun sangat mengharukan...
Di dalam ruang kimia, kami, murid SKS ipa(sebagian), berkumpul, menancapkan mata pada satu pusat, wali kelas kami.

Dengan cucuran air mata, Bu Wahyu meminta maaf pada kami atas kepergiannya, menyampaikan pesan-pesan terakhirnya, dan sebagainnya. Dan satu kenangan yang beliau berikan yang menjadi daging di tubuh saya, sebuah makanan terakhir...

Jadi, begitulah, kecelakaan beruntun tersebut, yang sangat memilukan...

kereta perpisahan...